web site hit counter Bubu Okky » bloggaul.com
     
    HOME BLOG
   
  Bubu Okky
http://bubu_okky.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

PENGUMUMAN:
BlogGaul mau berubah ...
 
Minggu, 2 November 2008 @ 08:36 WIB - Diari


Kapan ya terakhir berlibur bersama seluruh keluarga ?
Maksudnya aku bersama anak” dengan formasi lengkap
Rasanya sudah lama sekali, kalau gak salah pergantian tahun baru 2004 kami berlibur di pinggir pantai Pangandaran. Acaranya murah meriah. Cukup menyewa satu rumah dengan dua atau tiga kamar kami bisa kumpul rame rame.
Waktu itu tiga anakku masih kuliah , satu masih SMA dan bontot umur tiga tahun.
Anak-anak masih bisa dan mau diajak dalam acara-acara keluarga semacam liburan atau acara keluarga lainnya.

Dan sesudah lima tahun yang lalu berselang, rasanya tidak mudah kami bisa serentak berlibur bersama. Selalu saja ada alasan yang membuat semuanya tidak bisa terealisasi. Selama ini yang kulakukan adalah mencoba memahami keadaan anak-anak. Ya, anak-anak baru saja belajar merentangkan sayap. Semuanya dituntut tanggung jawab dan waktu yang tidak sedikit untuk bisa belajar. Dan aku cukup senang dengan keadaan ini. Bukankah ini puncak kebahagiaan bagi seorang ibu seperti aku ?
Ketika mampu mengentaskan anak-anak menjadi pribadi utuh dan mandiri.

Well, untuk sementara kuendapkan saja hasrat berlibur bersama.
Aku yakin suatu saat ada moment dimana kami bisa melakukannya.



Disarankan: 0
  Komentar: 4 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Selasa, 28 Oktober 2008 @ 09:36 WIB - Diari


Orang-orang terdekatku pasti sering melihatku menangis. Air mata ini begitu mudah mengalir. Mungkin bagi pandangan sebagian orang memberi kesan cengeng atau nampak rapuh. Menurut aku sendiri, menangis tidak mencerminkan seorang wanita ( karena kebanyakan wanita lah yang melakukan “aktifitas” ini ) bisa disimpulkan cengeng atau mempunyai jiwa rapuh.

Tidak mudah memberi jawaban, mengapa aku menangis hanya karena penyebab sepele, bahkan kerapkali menangis tanpa sebab.

Setiap aku membuat tulisan yang sekiranya menurut perasaanku, itu amat menyentuh ( aku sadar, belum tentu pembaca akan sama merasa tersentuh perasaannya ), baik itu sebuah puisi atau cerita lainnya, ada moment-moment tertentu dimana aku tidak bisa menahan agar air mata ini tidak jatuh bercucuran.

Menulis lalu membaca beberapa atau sebait kalimat pun bisa diselingi dengan linangan air mata atau kadang isakan tertahan. Ini bukan hal yang aneh.

Ya, untaian kalimat yang kubaca baik itu hasil karya orang lain atau bahkan tulisanku sendiri, bisa membuat mata ini memerah. Mrebes mili, meminjam istilah yang biasa diungkapkan oleh teman ku, Mila.

Tadi menjelang malam sehabis Maghrib aku “sms-an” dengan sepasang teman ku. Maksudnya sepasang pria dan wanita.
Mereka mengabariku bahwa saat ini mereka tengah dalam masa penjajagan untuk melakukan hubungan yang lebih serius. Sebetulnya aku tidak begitu kaget. Tapi rasanya tak bisa kupungkiri, ada sesuatu yang membuat perasaanku saat itu, tersentuh atau sedikit tertoreh. Bukan rasa sakit. Ah, sulitnya mengungkapkan sisi hatiku yang paling dalam.

Saat kuketik kalimat ini : “ Teteh senang, Ifa bisa menemukan pasangan yang klik. Bukankah itu yang dicari? Senang sekali bisa melihat Ifa tersenyum bahagia. Karena teteh sayang Ifa dan juga sayang Andra “.

Dan satu lagi sms buat Andra : “ Dra semoga bahagia. Mohon maaf selama ini teteh tidak bisa memberikan yang paling baik seperti harapan semua “. Nah, itu hanya sebagian contoh saja kalimat yang membuatku berlinangan air mata. Sepele tidak ? Tapi tidak bagiku.

Jadi mengapa aku, seorang ibu, seorang wanita menangis ?
Karena ternyata menurut Al-Quran sendiri wanita diciptakan Tuhan dengan nilai sangat utama. Betapa tidak.


Sebab Wanita mempunyai bahu agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi saat tertidur.

Sebab Wanita mempunyai kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahim walau kerap berulangkali menahan rasa sakit yang luar biasa.

Sebab Wanita mempunyai keperkasaan yang membuat tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Sebab Wanita mempunyai kesabaran jiwa untuk merawat keluarga walau tubuhnya letih, walau sakit, walau penat, tanpa keluh kesah.

Sebab Wanita dibekali perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam situasi apapun. Walau sering anak-anaknya melukai perasaan dan hatinya. Perasaan dan sentuhannya bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi anak-anaknya

Dan akhirnya, karena wanita mempunyai air mata, agar dapat mencurahkan perasaan. Inilah sesuatu yang khusus yang dimiliki aku sebagai wanita sebagai ibu, agar dapat digunakan disaat yang diinginkan.

Jadi setuju bukan kalau air mata bukan kelemahan wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan.”

Betewe, siapa juga yang membuatku tadi dini hari mengalirkan air mata ini, hayo ngaku ??
Mun teu ngaku, ditakol …ku kadeudeuh, kaheman...!!


Disarankan: 0
  Komentar: 7 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Minggu, 26 Oktober 2008 @ 16:09 WIB - Diari


Handphone ku tiba tiba bersuara , dari nomor yang tidak kukenal. Dan kudiamkan. Berhenti sendiri. Namun tak lama berselang berbunyi lagi. Dengan berat hati akhirnya kuangkat juga. Sebuah suara yang kukenal bahkan pernah begitu akrab di telingaku menyapaku dari ujung sana.

“ Aku ingin bicara, tolong...tolong...sekali ini saja. Dan setelah kali ini, kamu boleh tidak memperdulikanku lagi, sekalipun aku mati..kamu boleh tidak melihat mayatku.
Tolong sekali ini saja. Please...”, suara itu hampir meratap berdengung di telingaku.

Aku terdiam, bukan karena ngeri dengan kata-kata “mati” yang disampaikannya.
Tapi lebih cenderung kepada nuraniku yang bicara.
Kenapa sakit ini tak pernah sirna? Bahkan semakin lama semakin menumpuk menjadi bongkahan-bongkahan dendam yang tak ada akhirnya. Dari sudut pandang manapun, tak semestinya hati ini menjadi sakit lantaran penuh oleh virus dendam kesumat.

“ Ok, jam 14 tepat di rumah makan Borokokok (sengaja kupilih rumah makan yang paling tidak dikenal supaya tidak terlalu banyak pengunjung). Terlambat satu menitpun berarti pertemuan batal “, ucapku setengah mengancam.
“ Ok, nanti aku meluncur setengah jam sebelumnya “

Rumah Makan Borokokok jam 13.55.
Aku segera mengambil tempat di pojok sebelah kiri, meja no 6. Tanpa melirik kiri dan kanan, langsung kuhempaskan tubuhku di kursi makan. Kulirik jarum jam sudah menunjukan angka 13.57. Tak lama berselang kurasakan sepasang kaki berjalan menghampiriku. Tidak salah lagi, ia sudah mematung tepat di hadapanku.
Jantungku berdetak lebih cepat. Bayangkan saja, laki laki yang berada di hadapanku itu bukan orang asing. Ia pernah 19—baca—sembilas belas tahun hidup bersamaku.
Menghadirkan anak-anak yang selayaknya menjadi penerus hidupnya. Lalu selama sembilan tahun dari sejak aku dan dia terpisah, aku tak pernah pada posisi duduk satu meja. Jangankan duduk satu meja. Berbicara di telepon saja, sejak itu, bisa dihitung dengan jari. Ini boleh dibilang pertemuan pertama setelah sembilan tahun, yang agak privasi. Kami hanya berdua. Tak ada anak atau keluarga yang mendampingi.

“ Kamu kelihatan fresh . Gimana kerjaanmu sekarang ? “, ungkapnya sambil mengulurkan tangan.
“ Hmmm...begitulah. To the point saja, gak perlu berbasa basi. Silakan katakan maksudmu mengajakku bertemu di sini. Aku hanya punya waktu 60 ‘ . Jam 15 aku harus sudah kembali ke rumah, ada pekerjaan yang mesti kutangani “, jawabku.
“ Masih saja seperti dulu, ketus, dingin dan tajam. Ok, sambil makan kita bicara. Kamu mau pesan apa ? “, ia menjentikan jari tangannya dan seorang perempuan datang membawa daftar menu.
“ Aku sudah makan, minum saja. Avocado juice ! “, sambarku.
Tidak lama makanan dan minuman yang dipesanpun diantarkan oleh pelayan.
Sambil makan ia banyak bercerita dan bertanya.
“ Sudah waktunya kamu menentukan pilihan untuk mempunyai pendamping lagi “
Kalimat itu mengalir dari mulutnya yang penuh oleh ikan gurame cobek.
“ Hmmm...bukan urusanmu. Dan gak penting buatmu. Waktuku hanya sedikit. Bicara yang penting-penting saja“, aku mulai tidak nyaman dengan kata-katanya.
“ Eiiiisshhh...maaf..maaf...maksudku agar Agam juga mendapatkan apa yang dia cari selama ini. Toh aku tidak bisa memberikan apa yang dia harapkan. Aku merasa berdosa bahkan dikejar-kejar oleh dosaku sendiri “, ia mulai menghentikan makannya.
“ Aku tahu apa yang harus kulakukan. Untuk aku sendiri juga untuk Agam. Terima kasih atas perhatianmu. Menurutku, pembicaraan kita siang ini sama sekali gak bermutu “, aku segera beranjak dan melompat ke luar, meninggalkannya sendirian ditemani duri ikan yang acak-acakan di atas piring dan meja yang juga acak-acakan.

Aku dan ia sudah menjadi orang asing yang sudah tidak saling mengenal lagi.
Bagaimana mungkin ia bisa menyentuh sedikit saja hatiku ?
Ia memang laki-laki asing.


Disarankan: 0
  Komentar: 5 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



S E L A N J U T N Y A »



 

-----------------------------------------------
----------------------------------------------- SAHABAT BLOGER ----------------------------------------------- 1. BAMBANG
2. RIRI
3. Gandhi Singapurna
4. TONGKI ARI WIBOWO
5. TISIANA DJULIAMIE
6. HENDRA Grt
7. JAHAR
8. NIE
9. ANDRIE
10. FAJAR GM
11. GANDHI
12. HANARA
13. JOHAN
14. YASIR -----------------------------------------------

Free shoutbox @ ShoutMix
Photobucket
-----------------------------------------------
free
bubu_okky
 
    » Profile
    » Buku Tamu
:: liburan bersama ::
:: menangislah,... ::
:: laki-laki asing ::
'' pencarianku "
'' ketika amanda berkontemplasi ;;
Arsip Blog 
CARI BLOG:
haerulsohib
emak_quecantik
sastrawiguna
bugistoto
yulianbjm
Total: 497 
Sastrawiguna
jejakjini
Mhimi the Blog
SEMUA TENTANG ART
finderstorm
rindu rasanya berkunj...
wah... kompak banget ...
mbak, semoga moment i...
sama bund.. pengen ba...
menangis..?mhimi seri...
 
 
Created on:
Jumat, 30 Mei 2008 @ 18:46 WIB
 
   
 
BlogGaul mau berubah ...
Punya siapa nih??
Lombanya Risa
Tebarkan Amalan, tebarkan Senyuman
Drop Box
:: pesta blogger nasional...
lebih dr 1000 resep grati...
diskon 50%
ilang semangad..
jaaah,akhirnya kelar juga...
pake_telor
halim_san@yahoo.com
qncay
nuno
madame cece...
 
   
   
    Copyright © 2004 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI